Rabu, 29 Desember 2010

SELAMATKAN BUMI DARI GLOBAL WARMING DENGAN MEMBUDIDAYAKAN RUMPUT LAUT (Gracilaria verrucosa)

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pemanasan global adalah peningkatan temperatur suhu bumi dan lautan dari tahun ke tahun karena konsentrasi gas rumah kaca.Menurut (Houghton et.al., 2001) Permasalahan muncul ketika konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer bertambah.Dengan meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca, maka akan semakin banyak panas yang ditahan di permukaan bumi dan akan mengakibatkan suhu permukaan bumi menjadi meningkat. Kondisi ini sering disebut pemanasan global. Pemanasan global ini bila tidak ditanggulangi diprakirakan pada tahun 2100 akan dapat meningkatkan suhu udara sebesar 1,4 - 5,8oC relatif terhadap suhu udara pada tahun 1990. Meningkatnya suhu udara ini akan dapat mengakibatkan adanya perubahan iklim yang sangat ekstrim di bumi. Hal ini ditandai dengan terganggunya ekosistem dan mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub yang dapat menimbulkan naiknya permukaan air laut sebesar 9 - 88 cm pada tahun 2100.

Konsentasi gas rumah kaca disebabkan oleh manusia dalam pembakaran fosil ,dan industri modern yang menyumbangkan emisi karbon ke atmosfer dalam jumlah yang besar. Menurut (Agus Sugiyono) emisi CO2 di dunia meningkat dari sebesar 18,3 milyar ton CO2 pada tahun 1980 menjadi sebesar 27,0 milyar ton CO2 atau rata-rata meningkat sebesar 1,6% per tahun.Amerika Serikat sebagai penyumbang emisi CO2 yang terbesar, yaitu mencapai 21,9% dari total emisi CO2 dunia pada tahun 2004, diikuti oleh China (17,4%) dan India (4,1%). Sedangkan Indonesia hanya menyumbang emisi sebesar 1,2% dari total emisi CO2 dunia. Meskipun Indonesia tidak mempunyai kewajiban untuk mengurangi emisi, namun turut serta berinisiatif melakukan strategi untuk menguranginya.

Karbondioksida yang diemisikan ke atmosfer oleh perbuatan manusia mengakibatkan penumpukan gas di atmosfer sehingga gas rumah kaca yang mana seharusnya dipantulkan keluar angkasa tidak terjadi akibat penumpukan gas rumah kaca di atmosfer. Menurut (Tarsoen Waryono) timbulnya isu pemanasan global, karena dampaknya yang sangat besar, dan seandainya hal tersebut betul terjadi, akan menyebabkan terjadinya perubahan iklim dan kenaikan permukaan air laut, yang secara langsung baik cepat atau lambat akan menimbulkan dampak dampak turunannya.

Perkiraaan yang telah menjadi nyata saat ini membuat peningkatan gas CO2 di atmosfer mulai mendapat perhatian yang serius. Komitmen dunia melalui Protokol Kyoto di tahun 2010 tingkat reduksi emisi harus bisa mencapai 96% dari kondisi pada tahun 1990 (Cairns & Lasserre, 2001). Sejak itu pula semua negara termasuk Indonesia berpartisifasi dalam skema pembangunan bersih (Clean Development Mecanism - CDM) melalui perdagangan karbon (Certificate Emmission Reduction - CER) untuk mendapatkan bantuan dana dalam rangka pengembangan hutan yang berkelanjutan. Tumbuhan adalah aktor utama dalam proses reduksi CO2 melalui proses fotosintesis. Hutan merupakan harapan utama yang mampu mereduksi dan menstabilisasi konsentrasi CO2 di atmosfer. Akan tetapi faktanya bahwa yang mampu melakukan reduksi CO2 di atmosfer adalah bukan hanya tumbuhan di darat tapi juga tumbuhan di perairan.

Data IPCC yang ditulis oleh Muraoka, (2004) memaparkan bahwa lautan mampu menyerap hingga 2 billion ton karbondioksida per tahun. Bahkan Kementrian Lingkungan Jepang telah melaporkan bahwa perairan Jepang dengan rumput laut yang ada didalamnya (Sarggassum, Ecklonia, Seagrass, Laminaria) mampu menyerap CO2 hingga 2,7 juta ton/tahun termasuk dari hasil kegiatan budidaya). Produksi rumput laut di jepang sendiri adalah 650.000 ton basah/tahun dan yang berasal dari kegiatan budidaya sebesar 530.000 ton basah/tahun, dari jumlah tersebut mampu menyerap karbon sebesar 32.000 ton . Data hasil pengukuran serapan karbon di perairan diperoleh menunjukkan bahwa dalam 3,5 ton produksi alga terdapat 2,7 ton karbon (Sinha, 2008).

Tujuan
1.Penanganan Pemanasan Global dengan cara membudidayakan rumput laut
sebagai pengurang jumlah karbon dioksida yang berlebihan di atmosfer.
2.Membentuk suatu lembaga IKATAN MEMBUDIDAYAKAN RUMPUT LAUT UNTUK DUNIA (IMRLUD) sebagai pengontrol dari pihak yang tidak bertanggung jawab.

Manfaat
1.Membantu bumi dalam menstabilkan siklus karbon yang terjadi penumpukan di
atmosfer.
2.Membantu dan memberikan informasi kepada masyarakat bagaimana cara memanfaatkan algae laut.

GAGASAN
Kondisi Kekinian Pencetus Gagasan
Pemanasan global mulai mendapat perhatian yang serius pada pertengahan tahun 1980 sejak World Meteorological Organization (WMO) melakukan penelitian dan mengeluarkan scientific background tentang perubahan iklim global. WMO bersama-sama dengan United Nation Environment Programme (UNEP) membentuk Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada tahun 1988 dan mengusulkan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk melakukan tindakan untuk menanggulangi pemanasan global. Selanjutnya berdasarkan UNFCCC sepakat untuk mengadakan rapat tahunan tingkat menteri yang disebut Conference Of the Party (COP) dan rapat lima tahunan setingkat kepala negara. Beberapa hasil yang penting dari penyelenggaraan COP dapat dirangkumkan sebagai berikut COP 3 di Kyoto pada tahun 1997 dikeluarkan Kyoto Protocol yang mengharuskan negara maju untuk mengurangi emisi CO2 sebesar 5,2% dari level tahun 1990 pada periode 2008 sampai 2012.

Salah satu cara yang paling efektif untuk menangkap karbon di atmosfer yaitu melalui tumbuhan - tumbuhan yang berada di hutan melalui reaksi fotosintesis. Proses ini akan lebih banyak menyerap karbon pada hutan dengan tumbuhan yang baru saja tumbuh atau hutan yang sedang mengalami pertumbuhan yang cepat. Namun akibat dari penebangan dan pembukaan hutan yang berlebihan menyebabkan karbon yang ada di atmosfer akan dipantulkan lagi ke bumi sebagai efek gas rumah kaca (Wastu,2010)

Solusi yang pernah ditawarkan
Peluang rumput laut untuk menanggulangi dampak global warming untuk menyerap CO2 di atmosfer semakin meningkat (Wastu,2010). Jika dikaitkan dengan pernyataan Numberi (2008) sebelumnya mengenai luas areal indonesia. Apabila seluruh luas areal indonesia yang berpotensi untuk budidaya rumput laut sebesar 1,1 juta hektar maka jumlah CO2 yang dapat terserap sebesar 86,2 juta kg. Dalam hal ini tentunya jika Indonesia benar-benar melakukan usaha budidaya rumput laut secara berkesinambungan sesuai dengan revitalisasi perikanan 2009, maka Indonesia dapat meminimalisir dampak global warming dan membantu dunia dalam menyelamatkan bumi ini.

Tingkat keberhasilan Rumput Laut sebagai penurunan Karbon dioksida di Atmosfer

Salah satu hasil Konferensi "Perubahan Iklim di Nusa Dua - Bali, Rumput laut disebut-sebut sebagai media antisipasi "memerangi" pemanasan global. Rumput laut atau Ganggang laut dinilai jauh lebih ampuh menyedot CO2 dari atmosfer bumi dibanding tumbuhan di darat.Chung Ikkyo seorang ahli lingkungan dari Korea Selatan, dalam presentasinya menyebutkan bahwa proses kerja penyerapan CO2 oleh rumput laut / ganggang laut sama seperti tumbuhan di darat. Rumput laut menyerap CO2 melalui proses fotosintesis dan membentuk biomassa. Namun kemampuan rumput laut dalam menyerap CO2 bisa lima kali lebih besar dibanding tumbuhan di darat. Hasil penelitian tersebut didukung oleh para ilmuwan dari 12 negara (Arif,2010).

Pihak-pihak yang dapat membantu mengimplementasikan Rumput Laut agar menjadi suatu wadah masyarakat

Pihak yang dapat membantu membudidayakan rumput laut adalah para dosen perikanan dan ilmu kelautan , para tokoh masyarakat dan juga para usahawan yang memiliki ilmu dan mengerti dalam membudidayakan, diharapkan dapat membantu masyarakat sekitar agar dapat dan mengerti tentang manfaat dari membudidayakan rumput laut. Pihak yang tidak kalah penting yaitu dukungan dari pemerintah untuk mendukung program masyrakat dalam membuat lapangan pekerjaan dan membantu masalah dunia dalam pemanasan global.

Langkah-langkah strategis yang dilakukan untuk mengimplementasikan Rumput Laut dalam penanganan pemanasan global
1.Penyuluhan kepada masyarakat tentang penting dan manfaat rumput laut dalam
menangani pemanasan global dan keuntungan dari rumput laut.
2.Membentuk suatu lembaga agar terjaga keamanan pada rumput laut agar tidak
merugikan para pekerja dengan membentuk IKATAN MEMBUDIDAYAKAN
RUMPUT LAUT UNTUK DUNIA (IMRLUD).
3.Dukungan pemerintah khususnya Menteri kelautan dalam program ini supaya
untuk lebih meyakinkan kepada pekerja ini peluang yang sangat baik untuk
dikembangkan.

KESIMPULAN
Gagasan yang diajukan
Dalam menghadapi situasi pemanasan global saat ini diperlukan cara alternatif lain untuk menstabilkan pemanasan ini dengan cara, mengurangi penumpukan karbondioksida di atmosfer dan langkah langkah yang harus dilakukan dalam menstabilkan adalah dengan menanam tumbuhan . Karena kita ketahui tumbuhan menyerap karbon dioksida untuk melakukan fotosintesa dan mengeluarkan oksigen, tetapi karena di darat sudah banyak sekali contoh pihak pihak yang tidak bertanggung jawab dalam pemanfaatan tumbuhan. Sehingga saat ini menanam atau mengembangbiakan tumbuhan di laut seperti rumput laut sangat efektif dalam mereduksi karbondioksida di atmosfer. Rumput laut sama sepertihalnya tumbuhan di darat yang menyerap karbon dioksida dalam jumlah yang cukup banyak . Dan agar tidak ada lagi penyalahgunan rumput laut maka kita harus membentuk lembaga IKATAN MEMBUDIDAYAKAN RUMPUT LAUT UNTUK DUNIA (IMRLUD) sehinngga dalam pemanfaatan rumput laut ini terjaga,bagi dunia dalam mengalami pemanasan global akan terbantu dan pengurus dari pihak pekerja juga dapat manfaat dari rumput laut.
Dalam hal pembentukan suatu lembaga dibutuhkan suatu dukungan dari pemerintah khususnya kementerian kelautan untuk membantu memberi penjelasan dan penyuluhan terhadap para pekerja supaya para pekerja benar benar memahami manfaat dari lumput laut dan tata cara membudidayakan rumput laut dengan hasil yang optimal.

Teknik Implementasi Rumput Laut
Metode pemeliharaan setiap rumput laut berbeda satu sama lainnya. Namun secara umum dikenal tiga metode pemeliharaan rumput laut berdasarkan letak bibit terhadap dasar perairan, yaitu :

1. Metode Dasar ( bottom methode )

Metode dasar adalah cara pemeliharaan dimana bibit ditebarkan di dasar perairan yang datar. Penanaman dengan metode ini dilakukan 2 macam :
 Bibit (thalus) dipotong dengan ukuran sekitar 20-25 cm dengan berat 75-100 gram, kemudian disebarkan pada dasar perairan.Cara ini dilakukan pada perairan yang relative diam. Bibit (thalus) setelah  dipotong diikat pada batu karang atau balok semen, kemudian diatur berbaris dengan jarak 20-25 cm di dasar perairan. Cara ini dilakukan pada perairan yang ada ombaknya.




Gambar Rumput Laut





Gambar a. Rumput Laut Muda Gambar b. Rumput Laut Siap Panen


2. Metode Lepas Dasar ( off bottom method )

Metode ini dapat dilakukan pada dasar perairan yang terdiri dari pasir, sehingga mudah untuk menancapkan patok / pancang. Bibit ( thalus ) diikatkan pada tali atau jaring yang direntang diatas dasar perairan dengan pancang kayu .
Bahan-bahan yang digunakan dalam metode ini diantaranya :
• Potong bambu atau kayu dengan ukuran 1-1,5m dengan salah satu ujungnya runcing digunakan sebagai pancang.
• Tali plastic atau tali dari bahan monofilament, tali nilon no. 2000, sebagai tempat mengikat bibit.
•Tali raffia untuk mengikat bibit
• Apabila menggunakan jaring direntangan dengan patok, maka ukuran jaring 2,5 x 4 m2 dengan lebar mata jaring 25-30 cm.Jarak tali atau jaring dengan dasar perairan kira-kira 25 cm. jarak bibit dengn bibit lainnya kira-kira 25 cm. bibit yang akan ditanam berukuran antara 100-150 gram, dalam satu petak direntangkan 10 monolisme (Tali plastik). Satu monoline terdapat 10 ikat, sehingga dalam satu petak
terdapat 200 ikat atau kurang lebih 20 kg bibt.


3. Metode Apung (Floating method)

Metoda terapung dilakukan dengan cara membuat rakit dari bamboo dan kayu yang ukurannya 2-4 meter. Metode ini memiliki dua modifikasi yaitu monoline dan net seperti yang dilakukan dengan metode dasar. Metode ini baik diterapkan di tempat yang pergerakan airnya berupa ombak atau lokasi yang dasar perairannya berupa karang yang keras ( sulit untuk menancapkan pancang ).
Agar rakit tidak tidak hanyut sebaiknya dipasang jangkar. Untuk efisensi pemakaian area. Menyatukan rakit dalam jumlah banyak akan berpengaruh jelek terhadap pertumbuhan rumput laut. Jumlah rumput laut yang disatukan sebaiknya 10 rakit dengan ukuran 2 x 5 m2 (Ass, 2010).

Prediksi hasil yang diperoleh
Hasil yang didapat seandainya pekerja bekerja secara optimal dan iklim mendukung pertumbuhan rumput laut akan melimpah. Bukan sekedar hasil rumput laut yang melimpah tetapi karbondioksida yang cukup banyak akan berkurang dari atmosfer sehingga pemanasan global akan berkurang jika di lakukan secara rutin maka kita akan kembali pada massa-massa sebelumnya, dengan keadaan suhu normal. Menurut Herwin (2008) jumlah CO2 di atmosfer terus meningkat, pada tahun 2000 sekitar 330 ppm. Jumlah ini sudah menimbulkan efek rumah kaca, maka dengan memanfaatkan rumput laut sebagai penyerap CO2 efek rumah kaca tersebut dapat diminimalisir karena komoditas ini mampu menyerap sebanyak 2750 ppm CO2.

DAFTAR PUSTAKA
Cairrns, R. And P. Lasserre. 2001. Carbon Credits for Forest and Forest Product. University Quibac Montreal Canada. Working Paper No.20-02.

Diamahesa, Wastu Ayu, 2010. http://www.mediaindonesia.com/webtorial/ diakses pada senin tanggal 25 Oktober 2010, pada pukul 16.40 WIB.

Haris,2006. http://www.mediaindonesia.com/webtorial/diakses pada senin tanggal 25 Oktober 2010, pada pukul 16.40 WIB.

Herwin , 2008. http://www.mediaindonesia.com/webtorial/diakses pada senin tanggal 25 Oktober 2010, pada pukul 16.40 WIB.

Houghton, J.T., Ding, Y., Griggs, D.J., Noguer, M., van der Linder, P.J., Dai, X., Maskell, K., and Johnson, C.A., (2001) Climate\Change 2001: Scientific Basic, Cambridge University Press.

Kucrutsuper, 2010. http://www.google.co.id/diakses pada senin tanggal 28 Oktober 2010, pada pukul 16.40 WIB.

Lohmann, harry. 1999. The Carbon Shop: Planting News Problem. World Rainfores Movement. Uruguay.

Muraoka, D. 2004. Seaweed Resources as a Source of Carbon Fixation. Bull.Fish. Res. Agency. Suplement 1:59-63.

Nurdjana, 2008. http://www.mediaindonesia.com/webtorial/diakses pada senin tanggal 25 Oktober 2010, pada pukul 16.40 WIB.

Panyingkul, 2010. http://www.google.co.id/diakses pada senin tanggal 28 Oktober 2010, pada pukul 16.40 WIB.

Sinha, VRP. 2008. Carbon dioxide utilization and seaweed production. Bangladesh Fisheries Research Institute. World bank project.

Sugiyono,agus,2206. Penanggulangan Pemanasan Global Di Sektor Penggunan Energi. Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca, Vol. 7, No. 2, 2006 : 15-19 /diakses pada rabu tanggal 15 Desember 2010, pada pukul16.40 WIB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar